KJPL Indonesia Sesalkan ‘Mangrove Coklat’ Di Panturbaya

Surabaya | Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia menyesalkan temuan ‘mangrove coklat’ di Pantai Utara Surabaya (Panturbaya). Temuan ini diungkap Tim KJPL Indonesia, selama melakukan investigasi dan pemantaun kondisi mangrove dan burung di Kawasan Panturbaya, September-November 2013. Teguh Ardi … Baca lebih lanjut

Normalisasi Kali Surabaya Tiada Henti

Surabaya | Untuk terus melakukan upaya perbaikan dan pengendalian ekosistem di sepanjang Kali Surabaya, puluhan aktifis lingkungan hidup, tebar benih ikan asli Kali Surabaya. Aksi ini merupakan tahapan kedua yang digelar para aktifis lingkungan hidup di Jawa Timur, sesudah minggu lalu (08/07/2012) mereka menggelar aksi serupa di Sungai Kalimas, tepat di belakang Gedung Negara Grahadi.

“Aksi kita ini tiada henti, sampai kondisi Kali Surabaya benar-benar bersih dan bebas dari pencemaran limbah industri dan rumah tangga atau domestik,” kata Prigi Arisandi Direktur Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah – Ecoton, di sela penebaran benih ikan, di Kawasan Wringin Anom, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (14/07/2012).

Dalam aksi kedua itu, para aktifis lingkungan diantaranya dari Komunitas Nol Sampah, Ecoton dan Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia, menebar benih ikan rengkik, jendil, keting, belut juga bader asli Kali Surabaya, sepanjang dua kilometer dari hulu ke hilir di Kawasan Wringinanom, Gresik.

“Kita sengaja memilih jenis ikan itu, karena sangat signifikan untuk pemulihan ekosistem Kali Surabaya yang tercemar limbah Pabrik Gula Gempolkrep, Tjiwi Kimia dan Aluaksara Pratama – Produsen Tepung Beras “Rose Brand” pada 25-29 Mei 2012 lalu,” kata Teguh Ardi Srianto Ketua KJPL Indonesia.

Dijelaskan Teguh, kegiatan yang sama akan dilakukan lagi, Minggu (15/07/2012), dengan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat, diantaranya mahasiswa, pelajar dan komunitas lainnya yang peduli dengan kondisi Kali Surabaya, yang merupakan sungai utama di Jawa Timur.

“Untuk minggu (15/07/2012), kita juga akan menebar benih ikan jenis yang sama, dengan jumlah sekitar sepuluh ribu ekor, terbagi dalam beberapa jenis ikan,” tukas Teguh Ardi Srianto yang juga jurnalis di Radio Suara Surabaya. [KJPL]

Hak Atas Air Diabaikan

Jakarta | Wajah pengelolaan sumber daya air di Indonesia jauh dari bagus. Pemerintah dinilai tidak menghormati hak warga atas air. Sementara pengelolaan sumber daya air juga dinilai tidak profesional. Indonesia yang kaya sumber air justru berkutat dengan kekurangan air bersih.

”Dalam Undang-Undang Dasar tercantum tentang penguasaan air oleh negara dan harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Faktanya, yang termiskin justru harus membayar paling mahal,” kata Firdaus Ali dari Teknik Lingkungan UI pada diskusi Hari Air Dunia bertema ”Melestarikan Hutan dan Menjaga Ketersediaan Air Bersih”.

Kini, harga air di daerah Kelurahaan Pademangan, Jakarta, yang berpenduduk padat dan miskin, sekitar Rp 137.000 per meter kubik atau sekitar 15 dollar AS (kurs sekitar Rp 9.000 untuk 1 dollar AS). ”Itu termahal di dunia. Di negara lain tak ada yang harganya 10 dollar AS,” ujar Firdaus, yang aktif di Indonesia Water Institute.

Sementara jutaan warga di banyak kawasan pesisir hidup turun-temurun dalam kelangkaan air bersih. ”Tidak adanya akses air yang diberikan dan disediakan negara kepada warga pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia,” kata Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan.

Sebagai gambaran, dari 34 kota besar di mana program Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygine (Iuwash) dari USAID dilakukan, pemerintah daerah baru menganggarkan 1 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah mereka untuk program sanitasi, yang jelas amat erat kaitannya dengan ketersediaan air.

Tak profesional

Di tempat terpisah, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menilai pengelolaan air bersih masih belum profesional. ”Miskoordinasi pemerintah, baik pusat dan daerah maupun antardaerah menjadi penyebab makin parahnya sumber daya air bersih,’’ kata Ketua Umum IAGI Rovicky Dwi Putrohari.

Pada berbagai kasus, daerah tangkapan hujan berbeda pemerintahan dengan daerah yang memanfaatkan air. Ini menimbulkan ketidaksepahaman kebijakan sehingga saling lempar tanggung jawab antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Salah satunya terjadi di Jakarta dan Bogor. Sebanyak 11 sungai yang bermuara di Jakarta berasal dari Gunung Gede-Pangrango dengan kawasan Puncak sebagai hulunya. ”Sulit mempertahankan cadangan air di kawasan Puncak karena pengaruh modal amat besar. Diimbau jangan dibangun vila, tetap jadi vila,” ujar Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto.

Menurut Rovicky, hal itu sebenarnya bisa diatasi. Syaratnya, ”Pemerintah pusat menjalankan kekuasaannya untuk berkoordinasi dengan baik demi ketersediaan air bersih bagi masyarakat,” katanya.

Pihak IAGI mengkhawatirkan terjadi kelangkaan air bersih secara massal. Sebab, semakin banyak jumlah penduduk, maka kian banyak pula kebutuhan terhadap air bersih.

Faktanya, hampir semua daerah perkotaan merupakan daerah landai yang bukan daerah tangkapan air. Itu membuat kebutuhan air tanahnya sangat bergantung pada daerah terdekat yang bertopografi tinggi.

Untuk itu, lanjut Rovicky, tata guna lahan di daerah tangkapan air di perbukitan dan pegunungan dekat perkotaan harus terus dijaga. ”Jika tidak ada penataan, daerah tangkapan air akan gundul sehingga daerah perkotaan di dataran rendah semakin sulit memperoleh air,’’ katanya.

Di Kota Salatiga, Jawa Tengah, misalnya, jumlah mata air terus berkurang. Lahan resapan air menjadi permukiman. Dari 64 mata air besar dan kecil, hanya 35 mata air yang debitnya konstan sepanjang tahun. Tujuh mata air mengering, sisanya debit airnya menurun drastis.

Faktor kelangkaan

Menurut ahli tata air dari Institut Teknologi Surabaya, Amien Widodo, banyak faktor penyebab kelangkan air. Selain penggundulan hutan, kelangkaan air juga disebabkan pengambilan air tanah berlebihan, baik untuk industri maupun pertanian.

Di kawasan hulu tidak ada penambahan air meresap, di bagian tengah terjadi pengambilan berlebih. Akibatnya, air tanah di kawasan pantai akan tercemar air laut karena intrusi air laut. ”Kawasan yang terintrusi air laut akan makin luas kalau tidak segera diatasi,’’ kata Amien.

Ada beberapa cara meningkatkan cadangan air, antara lain, memelihara hutan di hulu, membangun terowongan bawah tanah seperti di Chicago (AS), Kuala Lumpur (Malaysia), Singapura, dan Tokyo (Jepang), serta teknologi osmosis air laut. [Kompas | KJPL]

Jangan Jadikan Polusi Sebagai Gaya Hidup

Jakarta | Jenis polusi dalam ruang beragam. Namun hanya satu yang hingga saat ini masih menjadi gaya hidup dan terus mencabut nyawa.

Sumber utama polusi dalam ruang adalah kandungan gas-gas dan partikel di udara. Bahan bangunan, peralatan rumah tangga, perabot ruangan, penyekat berbahan asbes, karpet yang basah atau lembab, produk-produk perawatan dan pembersih rumah, hingga produk perawatan tubuh berpotensi menyumbang polusi dalam ruang.

Di Indonesia, masih banyak masyarakat miskin di pedesaan yang menggunakan kayu sebagai alat untuk memasak. Kayu bakar menghasilkan asap atau polusi dalam ruang, memicu gangguan kesehatan.

Namun dari semua sumber polusi dalam ruang tersebut, hanya satu yang hingga saat ini masih menjadi gaya hidup dan terus merusak kesehatan. Baik bagi pelakunya, maupun bagi anak isteri mereka, sahabat, rekan sekerja maupun semua yang ada di sekitarnya. Sumber polusi tersebut adalah pembakaran produk tembakau.

Berbeda dengan polusi luar ruangan, seperti asap kendaraan bermotor, polusi jenis ini – lagi-lagi di Indonesia – bisa masuk dalam ruang-ruang yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Masih banyak orang yang membakar tembakau di sekolah, di ruang berpendingin udara, di rumah, di sekitar bayi dan anak-anak, pada pagi hari saat semua orang menikmati udara bersih dan segar.

Aturan yang membatasi perilaku pembakaran produk tembakau ini sudah diciptakan. Namun sekali lagi, di Indonesia, buat apa peraturan jika tidak untuk dilanggar. Di rumah sakit, di ruang terbuka hijau, di restoran mewah hingga warung tegal, warung internet, di mall, di taman, tempat bermain, di supermarket, di dalam mobil pribadi bahkan di angkutan umum, masih banyak kita jumpai pembakaran produk tembakau ini.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diterbitkan Kamis lalu (15/02/2012), kematian yang bersumber dari penggunaan dan pembakaran produk tembakau di dunia, jumlahnya mencapai 5 juta jiwa per tahun atau 12% dari semua kasus kematian yang menimpa penduduk di atas usia 30 tahun. Data ini adalah data tahun 2004, setahun sebelum konvensi internasional terkait produk tembakau diterapkan.

Konvensi Kerjasama untuk Mengontrol Tembakau atau The Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) mulai berlaku pada 2005. Konvensi ini mengharuskan semua negara membatasi iklan tembakau, mengatur pemberian sponsor, promosi, dan menetapkan label dalam produk-produk tembakau, termasuk upaya untuk mengontrol kebersihan udara dalam ruang dan memerkuat aturan hukum penyelundupan produk-produk ini.

Laporan terbaru dari WHO berjudul “Mortality Attributable to Tobacco,” yang diterbitkan pada hari yang sama menunjukkan, 5% dari semua kematian yang disebabkan oleh penyakit menular (communicable illnesses) dan 14% kematian dari penyakit tidak menular (non-communicable illnesses) di kelompok usia dewasa di atas 30 tahun, terkait dengan penggunaan produk tembakau.

Menurut Ala Alwan, Wakil Direktur Jenderal WHO, tembakau tidak hanya menyebabkan penyakit tak menular seperti kanker, jantung dan gangguan pernafasan namun juga penyebab utama penyebaran penyakit menular seperti TBC, yang dipicu oleh penggunaan dan pembakaran produk tembakau.

Wilayah dengan tingkat kematian tertinggi terkait penggunaan produk tembakau terjadi di Amerika dan Eropa yang telah lama menggunakan produk-produk ini.

Di dunia, dalam kelompok usia 30-44 tahun, sebanyak 38% kematian yang disebabkan penyakit jantung, terkait dengan penggunaan dan pembakaran produk tembakau, sementara kematian akibat kanker paru-paru, 71% dipicu oleh penggunaan produk tembakau.

“Jika diterjemahkan dalam data statistik, 5 juta kematian setiap tahun (akibat pemakaian produk tembakau) tersebut setara dengan satu kematian setiap 6 detik,” ujar Dr. Alwan.  “Jika tidak diambil tindakan yang tegas, epidemik ini diperkirakan akan memakan korban 1 miliar penduduk pada abad ini – kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi,” tambahnya. Dr. Alwan mendesak semua negara untuk menerapkan konvensi tembakau ini. [Hijauku | KJPL]

Gunung Lokon Meletus Lagi

Manado | Gunung Lokon di Tomohon, Sulawesi Utara, kemarin sekitar pukul 08.20 Wita kembali meletus. Letusan diiringi bunyi dentuman yang cukup keras.

Tidak ada korban jiwa dalam letusan tersebut. Debu letusan jatuh di sekitar gunung hingga ke sejumlah tempat.”Memang sejak kemarin (Kamis, 9/2) telah terjadi peningkatan kegempaan vulkanik dalam dan dangkal sehingga mengakibatkan terjadinya letusan.

Ketinggian debu diperkirakan sekitar 2.000 meter,” kata staf Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Tomohon,Warno kemarin.Sekitar 300 gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal terekam sebelum terjadi letusan Gunung Lokon. ”Gempa vulkanik ini terekam sejak Kamis (9/2) pukul 14.00 Wita. Akumulasi energi itu akhirnya memicu terjadinya letusan,” ungkap Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Farid Ruskanda Bina.

Pascaletusan, ujar Farid, masih terekam gempa dengan frekuensi kecil serta tremor vulkanik dengan amplitudo sekitar 0,5-1,5 milimeter.”Aktivitas kegempaan mulai menurun setelah terjadi pelepasan energi dalam bentuk letusan tadi pagi (kemarin),”ucapnya.

Selain memuntahkan material debu vulkanik, letusan juga diiringi dengan lontaran material pijar di sekitar kawah Tompaluan, Gunung Lokon. Lontaran material pijar ini mengakibatkan terbakarnya alang-alang di sekitar kawah. Belum bisa dipastikan berapa luas areal yang terbakar. ”Mudah- mudahan kebakaran tidak meluas.Apalagi, semak belukar di sekitar kawah sudah mengering akibat diembus gas belerang dari kawah,”tuturnya.

Farid menjelaskan, muntahan debu vulkanik setinggi 2.000 meter jatuh di beberapa tempat seperti Kelurahan Kakaskasen, Kelurahan Walian, Kelurahan Sarongsong, pusat Kota Tomohon hingga Tondano. ”Debu letusan tidak jatuh di kelurahan yang dekat dengan kawah seperti Kelurahan Kinilow I, Kinilow dan Kakaskasen I,Kecamatan Tomohon Utara, karena tertiup angin dari arah utara, meski tidak terlalu kencang,” ungkapnya.

Kondisi ini sempat membuat warga panik.Warga berhamburan keluar rumah dan memenuhi ruas-ruas jalan di Kelurahan Kinilow I dan Kinilow, serta Kakaskasen, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, yang memang terletak dekat dengan kawah. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara Hoyke Makarawung mengatakan, pascaletusan aktivitas warga kembali normal.

”Memang pada saat terjadi letusan aktivitas warga sempat terhenti sejenak, namun kembali sudah berangsur normal.Warga kembali beraktivitas seperti bisa,” kata Makarawung di Manado. Dia mengatakan, sebelum terjadi letusan, pemerintah Kelurahan Kinilow dan Kinilow I,Tomohon Utara telah meningkatkan kesiapsiagaan sehingga pada saat terjadi letusan tidak terjadi kepanikan luar biasa.

Tidak ada warga yang diungsikan atau dievakuasi dari daerah rawan bahaya. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengimbau untuk terus waspada dan mempersiapkan segala hal jika ada peningkatan aktivitas gunung Lokon.”Semoga tidak ada letusan susulan yang tidak kita inginkan,”ucapnya.

Sebelumnya Gunung Lokon meletus, 27 Desember 2011 sekitar pukul 03.07 Wita. Dentuman dan getarannya terasa hingga radius 5 kilometer. Pada 1 Agustus 2011 terjadi empat kali letusan disertai semburan material vulkanik setinggi 150 hingga 400 meter. Asap putih tebal keabu-abuan terlihat keluar dari Kawah Tompaluan. [Antara | KJPL]

Faktor dan Dampak Kerusakan Lingkungan Hidup

Surabaya | Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.

Lingkungan hidup, menurut UU no. 32 tahun 2009, “Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain”. Dalam persoalan lingkungan hidup, manusia mempunyai peranan yang sangat penting. Karena pengelolaan lingkungan hidup itu sendiri pada akhirnya ditujukan buat keberlangsungan manusia di bumi ini.

Kerusakan lingkungan hidup terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (KMNLH, 1998). Kerusakan lingkungan hidup
terjadi di darat, udara, maupun di air. Kerusakan lingkungan hidup yang akan dibahas dalam Bab ini adalah meluasnya lahan kritis, erosi dan sedimentasi, serta kerusakan lingkungan pesisir dan laut.

Faktor penyebab kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu Faktor Alam dan Faktor Manusia.

a. Kerusakan Lingkungan Hidup Faktor Alam

Bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Salah satunya adalah gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias. Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain : Letusan gunung berapi, Gempa bumi, dan Angin topan. Peristiwa-peristiwa alam tersebut yang menimbulkan kerusakan pada lingkunga hidup.

b. Kerusakan Lingkungan Hidup Faktor Manusia
Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Manusia merupakan salah satu kategori faktor yang menimbulakan kerusakan lingkungan hidup. Bentuk kerusakan yang di timbulkn oleh manusia adalah:

  • Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri.
  • Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.
  • Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung juga membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

  • Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan).
  • Perburuan liar.
  • Merusak hutan bakau.
  • Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman.
  • Pembuangan sampah di sembarang tempat.
  • Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS).
  • Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas. [KJPL]

Target Penyelamatan Keanekaragaman Hayati Dunia 2011 – 2020

Jepang  | Delegasi Republik Indonesia yang dipimpin Menteri Lingkungan Hidup di Konferensi Konvensi Keanekaragaman Hayati di Nagoya Jepang menyepakati point penting yang sangat berpengaruh pada kelestarian Keanekaragaman Hayati di Dunia.

Inilah saat yang tepat bagi Indonesia untuk memanfaatkan konvensi keanekaragaman hayati dan protokol ABS untuk kemakmuran bangsa Indonesia dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Tonggak sejarah ini adalah waktu yang tepat untuk mendorong penetapan Undang Undang Pengelolaan Sumber Daya Genetik sebagai perangkat hukum bagi pelaksanaan secara efektif Protokol ABS di Indonesia.

Rencana Strategis dan Target Global 2011-2020. Rencana Strategis yang ambisius ini menjadi panduan kebijakan global dalam mengurangi laju kerusakan keanekaragaman hayati dan target penting lain. Target global yang disepakati meliputi antara lain:

  • Penurunan laju kehilangan kawasan habitat alami sedikitnya menjadi separuhnya dan, apabila memungkinkan, sampai mendekati nol
  • Pembentukan protected area sebesar 17% untuk kawasan terrestrial dan perairan darat, serta 10% kawasan pesisir dan laut secara global
  • Restorasi sekurangnya 15% dari ekosistem yang rusak
  • Upaya khusus untuk mengurangi tekanan terhadap terumbu karang
  • Peningkatan pendanaan untuk implementasi konvensi. Strategi ini juga didukung oleh kesepakatan adanya mekanisme dan besaran mobilisasi pendanaan. [KJPL]


Presiden Harus Belajar dari Nelayan Demak

Jakarta | Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mesti mengubah paradigma pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanannya dengan lebih melibatkan perempuan nelayan dalam konteks peningkatan kesejahteraan keluarga nelayan.

Pengetahuan dan pengalaman berharga inilah yang ditularkan oleh kelompok perempuan nelayan Puspita Bahari (organisasi dampingan Kiara) asal Dusun Moro, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, saat menerima Kusala Swadaya 2011 (Penghargaan Tingkat Nasional untuk Mendorong Gerakan Kewirausahaan Sosial).

Masnu’ah, kepala kelompok Puspita Bahari mengatakan bahwa, Kusala Swadaya 2011 yang diterima oleh Puspita Bahari membuktikan bahwa partisipasi perempuan nelayan tidak bisa dikesampingkan oleh pemerintah jika ingin menyejahterakan nelayan.

“Dengan bekal keberanian dan keinginan besar untuk maju yang kami miliki, perlahan tapi pasti kami membuktikan bahwa hak perempuan nelayan mesti diakui, dipenuhi, dan dilindungi oleh negara,” kata Masnu’ah sesaat setelah menerima Kusala Swadaya 2011 mewakili kelompoknya.

Apa yang disampaikan Masnu’ah benar adanya. Studi Kiara menyebutkan, 48 persen pendapatan keluarga nelayan dihasilkan dari aktivitas ekonomi perempuan nelayan. Dalam konteks itu, penting bagi PreJakarta.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mesti mengubah paradigma pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanannya dengan lebih melibatkan perempuan nelayan dalam konteks peningkatan kesejahteraan keluarga nelayan.

Pengetahuan dan pengalaman berharga inilah yang ditularkan oleh kelompok perempuan nelayan Puspita Bahari (organisasi dampingan Kiara) asal Dusun Moro, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, saat menerima Kusala Swadaya 2011 (Penghargaan Tingkat Nasional untuk Mendorong Gerakan Kewirausahaan Sosial).

Masnu’ah, kepala kelompok Puspita Bahari mengatakan bahwa, Kusala Swadaya 2011 yang diterima oleh Puspita Bahari membuktikan bahwa partisipasi perempuan nelayan tidak bisa dikesampingkan oleh pemerintah jika ingin menyejahterakan nelayan.

“Dengan bekal keberanian dan keinginan besar untuk maju yang kami miliki, perlahan tapi pasti kami membuktikan bahwa hak perempuan nelayan mesti diakui, dipenuhi, dan dilindungi oleh negara,” kata Masnu’ah sesaat setelah menerima Kusala Swadaya 2011 mewakili kelompoknya. Apa yang disampaikan Masnu’ah benar adanya. Studi Kiara menyebutkan, 48 persen pendapatan keluarga nelayan dihasilkan dari aktivitas ekonomi perempuan nelayan.

Dalam konteks itu, penting bagi Presiden SBY untuk mereorientasi kebijakan pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanan dengan melibatkan perempuan nelayan sejak proses pengambilan keputusan hingga pelaksanaannya di lapangan.

“Karena dalam aktivitas perikanan skala tradisional hingga industri, peran perempuan banyak terlibat,” jelas Abdul Halim, Koordinator Program Kiara Jumat (28/10).

Olehnya, pasca reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid 2, penting bagi Presiden SBY mendesak Menteri Kelautan dan Perikanan untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh atas kinerja aparat di bawahnya agar ke depan kesejahteraan nelayan dan kelestarian ekosistem pesisir dan laut tidak hanya terpaku di atas kertas program dan kerja KKP.

Presiden SBY untuk mereorientasi kebijakan pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanan dengan melibatkan perempuan nelayan sejak proses pengambilan keputusan hingga pelaksanaannya di lapangan. “Karena dalam aktivitas perikanan skala tradisional hingga industri, peran perempuan banyak terlibat,” jelas Abdul Halim, Koordinator Program Kiara Jumat (28/10).

Olehnya, pasca reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid 2, penting bagi Presiden SBY mendesak Menteri Kelautan dan Perikanan untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh atas kinerja aparat di bawahnya agar ke depan kesejahteraan nelayan dan kelestarian ekosistem pesisir dan laut tidak hanya terpaku di atas kertas program dan kerja KKP. [KJPL]

Pencemaran Udara Indonesia Mengkhawatirkan

Surabaya | Tingkat pencemaran udara di Indonesia semakin memprihatinkan. Bahkan salah satu studi melaporkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat polusi udara tertinggi ketiga di dunia. World Bank juga menempatkan Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan/partikulat tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City.

Di Indonesia sendiri, sebagaimana data yang dipaparkan oleh Pengkajian Ozon dan Polusi Udara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Jawa Barat menduduki peringkat polusi udara tertinggi di Indonesia.

Dari semua penyebab polusi udara yang ada, emisi transportasi terbukti sebagai penyumbang pencemaran udara tertinggi di Indonesia, yakni sekitar 85 persen. Hal ini diakibatkan oleh laju pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor yang tinggi. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik (misalnya kadar timbal yang tinggi). Kebakaran hutan dan industri juga turut berperan.

Dampak Pencemaran Udara Pada Kesehatan

Dari segi kesehatan, pencemaran udara dapat berakibat pada terganggunya kesehatan dan pertumbuhan anak-anak. Misalnya anemia. Memang, di masa pertumbuhan sel-sel darah merah terus diproduksi. Namun, karena masuknya timbal akan merusak sel darah merah, maka jumlahnya makin lama makin berkurang dan akhirnya anak menderita anemia.

Timbal yang masuk ke dalam tubuh juga akan merusak sel-sel darah merah yang mestinya dikirim ke otak. Akibatnya, terjadilah gangguan pada otak. Hal yang paling dikhawatirkan, anak bisa mengalami gangguan kemampuan berpikir, daya tangkap lambat, dan tingkat IQ rendah. Dalam hal pertumbuhan fisik, keberadaan timbal ini akan berdampak pada beberapa gangguan, seperti keterlambatan pertumbuhan dan gangguan pendengaran pada frekuensi-frekuensi tertentu.

Pada orang dewasa, timbal dapat mempengaruhi sistem reproduksi atau kesuburan. Zat ini dapat mengurangi jumlah dan fungsi sperma sehingga menyebabkan kemandulan. Timbal juga mengganggu fungsi jantung, ginjal, dan menyebabkan penyakit stroke serta kanker. Ibu hamil akan menghadapi risiko yang tinggi jika kadar timbal dalam darahnya di ambang batas normal. Timbal ini akan menuju janin dan menghambat tumbuh-kembang otaknya. Risiko lain adalah ibu mengalami keguguran.

Yang perlu diketahui, timbal layaknya musuh dalam selimut. Awalnya, kadar timbal yang tinggi dalam darah tidak akan menunjukkan gejala penyakit. Dampak baru muncul dalam jangka panjang.

Sudah banyak studi yang dilakukan berkaitan dengan pencemaran timbal. Pada tahun 2001 anak-anak pernah dijadikan sampel riset dampak timbal. Dari sampel darah sebanyak 400 yang diambil dari siswa SD kelas II dan III di Jakarta, hasilnya sekitar 35 persen sampel ternyata memiliki kadar timbal dalam darah di atas normal. Angka ini berarti melebihi ambang batas kadar timbal pada tubuh anak-anak yang ditetapkan CDC (Center for Deseases Control and Prevention) yang hanya 10 mikrogram per desiliter.

Dampak Pencemaran Udara pada Lingkungan

Menghambat fotosistesis tumbuhan. Terhadap tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosisnekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.

Menyebabkan hujan asam. pH biasa air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain: Mempengaruhi kualitas air permukaan, Merusak tanaman, Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan, serta Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan.

Meningkatkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global. Pemanasan global sendiri akan berakibat pada; Pencairan es di kutub, Perubahan iklim regional dan global, Perubahan siklus hidup flora dan fauna.

Kerusakan lapisan ozon. Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon. Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat mengakibatkankanker kulit serta penyakit pada tanaman.

Mengurangi Pencemaran Udara

Untuk menanggulangi terjadinya pencemaran udara dapat dilakukan melalui beberapa usaha antara lain:

  • Mengganti bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tidak menghasilkan gas karbon monoksida.
  • Pengolahan atau daur ulang limbah asap industri
  • Penghijauan dan reboisasi atau penanaman kembali pohon-pohon pengganti
  • Menghentikan pembakaran hutan. [KJPL]