Amerika Berharap Akses Air Bersih Makin Mudah

Sidoarjo | Amerika Serikat berharap akses air bersih dan aman untuk masyarakat bisa semakin mudah. Christian Holmes Global Water Coordinator United State Agency International Development (USAID) mengatakan ini, disela peresmian bantuan Sistem Master Meter di empat wilayah di Sidoarjo, Rabu … Baca lebih lanjut

Kementrian PU Resmikan Penyaring Air Laut Untuk Air Minum

Surabaya | Untuk mengatasi kelangkaan ketersediaan air minum di daerah terpencil, Kementrian Pekerjaan Umum, meluncurkan program Instalasi Penyaringan Air Laut Untuk Air Minum. “Program yang lebih dikenal dengan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) ini, sering disebut sebagai Program Pengolahan Air … Baca lebih lanjut

Normalisasi Kali Surabaya Tiada Henti

Surabaya | Untuk terus melakukan upaya perbaikan dan pengendalian ekosistem di sepanjang Kali Surabaya, puluhan aktifis lingkungan hidup, tebar benih ikan asli Kali Surabaya. Aksi ini merupakan tahapan kedua yang digelar para aktifis lingkungan hidup di Jawa Timur, sesudah minggu lalu (08/07/2012) mereka menggelar aksi serupa di Sungai Kalimas, tepat di belakang Gedung Negara Grahadi.

“Aksi kita ini tiada henti, sampai kondisi Kali Surabaya benar-benar bersih dan bebas dari pencemaran limbah industri dan rumah tangga atau domestik,” kata Prigi Arisandi Direktur Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah – Ecoton, di sela penebaran benih ikan, di Kawasan Wringin Anom, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (14/07/2012).

Dalam aksi kedua itu, para aktifis lingkungan diantaranya dari Komunitas Nol Sampah, Ecoton dan Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia, menebar benih ikan rengkik, jendil, keting, belut juga bader asli Kali Surabaya, sepanjang dua kilometer dari hulu ke hilir di Kawasan Wringinanom, Gresik.

“Kita sengaja memilih jenis ikan itu, karena sangat signifikan untuk pemulihan ekosistem Kali Surabaya yang tercemar limbah Pabrik Gula Gempolkrep, Tjiwi Kimia dan Aluaksara Pratama – Produsen Tepung Beras “Rose Brand” pada 25-29 Mei 2012 lalu,” kata Teguh Ardi Srianto Ketua KJPL Indonesia.

Dijelaskan Teguh, kegiatan yang sama akan dilakukan lagi, Minggu (15/07/2012), dengan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat, diantaranya mahasiswa, pelajar dan komunitas lainnya yang peduli dengan kondisi Kali Surabaya, yang merupakan sungai utama di Jawa Timur.

“Untuk minggu (15/07/2012), kita juga akan menebar benih ikan jenis yang sama, dengan jumlah sekitar sepuluh ribu ekor, terbagi dalam beberapa jenis ikan,” tukas Teguh Ardi Srianto yang juga jurnalis di Radio Suara Surabaya. [KJPL]

SIKLUS – ITS Gowes Lingkungan Surabaya – Yogyakarta

Surabaya | Untuk mengkampanyekan gerakan hijau di masyarakat, Pencinta Lingkungan Hidup ITS, menggelar “Rally Lingkungan Surabaya – Yogyakarta”, mulai Sabtu – Kamis, (23-28/06/2012). Agenda ini, selain untuk meningkatkan kesadaran warga masyarakat dalam memahami dan mencintai lingkungan, juga sekaligus sebagai upaya kampanye lingkungan hidup dari para mahasiswa ITS.

“Untuk agenda kali ini, diikuti 22 mahasiswa PLH Siklus, dan mereka akan berhenti di beberapa kota sebelum sampai di Yogyakarta,” kata Janah Panitia Rally Lingkungan Siklus ITS.

Ditambahkan Janah, dibeberapa kota seperti Madiun, Solo dan Yogyakarta, tim gowes dari Siklus ITS akan berhenti dan melakukan kampanye “Green Economy” untuk warga di sekitar kota yang dilewati.

“Upaya itu diharapkan dapat langsung menyentuh masyarakat luas, yang belum paham dengan arti penting menjaga dan melestarikan lingkungan hidup yang sudah rusak,” terang Janah.

Dalam kegiatan itu, tim gowes dari Siklus ITS, akan terus bersepeda menuju Yogyakarta dengan perbekalan yang sudah disiapkan termasuk tim medis akan mendampingi selama perjalan. [KJPL]

Indonesia ‘Harus Berpikir Dua Kali’ Sebelum Terapkan Nuklir

Jepang | Ahli Jepang telah memperingatkan pemerintah Indonesia sangat hati-hati ketika memutuskan apakah akan menghasilkan listrik dari energi nuklir, dengan alasan bahwa kepulauan yang rawan terhadap bencana alam.

Jepang Heizo Takenaka ahli dan Yoichi Funabashi mengatakan bahwa bahkan negara mereka sendiri, yang termasuk yang paling berteknologi maju di dunia, masih memiliki masalah dalam berhubungan dengan whammy ganda tahun lalu tsunami dan krisis nuklir Fukushima yang diikuti.

Takenaka, seorang mantan urusan internal dan komunikasi menteri, mengatakan Jepang berurusan dengan krisis besar setelah gempa melanda Tohoku daerah pada tanggal 11 Maret 2011.

Funabashi mengatakan bahwa itu adalah krisis terburuk negara itu telah menghadapi sejak Perang Dunia II.

Funabashi memimpin tim investigasi independen, yang dibentuk oleh Membangun kembali Jepang Initiative Foundation, untuk meninjau bagaimana Jepang pemerintah dan lembaga lainnya menanggapi bencana.

Dia mengatakan tim menemukan bahwa menteri Perdana Naoto Kan diam-diam memanggil Shunsuke Kondo, ketua Energi Atom Jepang Komisi, untuk menyerahkan-Nya dengan skenario terburuk untuk nuklir kecelakaan.

Dalam skenario itu, Kondo mengatakan radiasi yang bisa mencapai daerah 200 kilometer dari Fukushima dan lebih dari 30 juta orang di Tokyo harus dievakuasi. “Itu seberapa serius situasinya,” Funabashi mengatakan.

Menanggapi rencana Indonesia untuk memiliki pabrik sendiri nuklirnya, Takenaka mengatakan bahwa meskipun setiap negara bisa memutuskan kebijakan energi sendiri, Indonesia harus mempertimbangkan fakta bahwa itu terletak di “Pacific Ring of Fire “, sehingga rentan terhadap bencana.

“Radiasi akan memiliki dampak yang langgeng, sehingga Anda harus memperhitungkan menjelaskan banyak hal sebelum membangun pembangkit listrik. Anda harus berpikir tentang biaya manajemen, keamanan dan yang restorasi jika sesuatu terjadi. Ini sangat mahal, memakan waktu dan berisiko, “kata Funabashi.

Tidak ada pembangkit nuklir di Indonesia, tetapi pemerintah memiliki menyatakan minatnya untuk membangun satu. Negara ini memiliki dua lembaga mengawasi masalah nuklir: Badan Tenaga Nuklir Nasional dan Energi Nuklir Badan Regulator dan Institut Teknologi Nuklir.

Gempa yang terjadi di Aceh bulan lalu menyuarakan keprihatinan mengenai rencana tersebut. [KJPL]

Menengok Perkembangan Bangunan Hijau di Singapura

Singapura | Konsistensi pemerintah dan regulasi adalah kunci sukses Singapura beralih ke bangunan yang ramah lingkungan.

Upaya Singapura beralih ke bangunan hijau telah dimulai sejak 7 tahun yang lalu. Organisasi yang betanggung jawab atas konstruksi dan bangunan di Singapura, Building and Construction Authority (BCA), memulai upaya ini dengan memerkenalkan konsep BCA Green Mark pada Januari 2005.

Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan pengembang, perencana, arsitek dan insinyur yang menangani proyek-proyek properti dan perumahan.

Sejak tahun 2010, pemerintah Singapura mengharuskan semua bangunan baru mengikuti program BCA Green Mark ini untuk mendapatkan standar sertifikasi (certification standard) mulai dari Green Mark Certified, Green Mark Gold, Green Mark Gold Plus, hingga Green Mark Platinum.

Setiap pengembang (developer) harus mendaftarkan proyek baru mereka ke BCA . BCA kemudian akan menilai dan bertemu dengan tim proyek untuk memberitahu regulasi dan kriteria yang harus ditaati serta dokumen-dokumen yang harus diajukan oleh setiap pengembang.

Regulasi BCA ini melengkapi regulasi lain yang terkait dengan desain, kesehatan dan keselamatan bangunan.
Penilaian akan segera dilakukan jika tim proyek sudah mengumpulkan semua data dan informasi yang diperlukan. BCA akan melakukan verifikasi di tempat dan mengeluarkan standar sertifikasi mana yang diperoleh setelah semua proses verifikasi selesaikan.

Setidaknya ada lima standar yang digunakan BCA untuk menilai bangunan hijau di negara pulau tersebut.
Singapore Standard 530 yang mengatur efisiensi energi termasuk layanan dan peralatan yang digunakan.
Singapore Standard 553 yang mengatur ventilasi mekanis dan sistem pendingin ruangan.
Singapore Standard Code of Practice 38 yang mengatur pencahayaan buatan di dalam bangunan.
Singapore Standard 531-1 yang mengatur pencahayaan di tempat kerja dalam ruangan
Dan standar pengukuran kinerja suhu bangunan (Code on Envelope Thermal Performance of Building).
Program BCA GM mengelompokkan bangunan dalam dua kategori besar yaitu bangunan perumahan (residential) dan non-perumahan (non-residential). Penilaian sertifikasi lingkungan ini dihitung berdasarkan akumulasi perolehan angka yang dikenal dengan nama Green Mark Points (GM points).
Bangunan dengan GM Points 50-75 akan memeroleh standar “GM Certified”.
Bangunan yang memeroleh GM Points antara 75-85 akan mendapatkan standar “GM Gold”.
Bangunan dengan GM Points antara 85-90 akan mendapatkan standar “GM Gold Plus”.
Di atas 90 akan memeroleh standar “GM Platinum”.
Ada lima faktor yang memengaruhi penilaian sertifikasi yaitu: efisiensi energi; efisiensi air; perlindungan terhadap lingkungan; kualitas lingkungan di dalam bangunan – seperti kualitas udara, suhu yang nyaman, tingkat polusi suara, pencahayaan alami; dan penerapan praktik serta teknologi ramah lingkungan (green practices and technology).

Sejak tahun 2009, hampir 100% bangunan di Singapura seperti perkantoran, pusat perbelanjaan, apartemen, sekolah dll sudah mendapatkan sekurang-kurangnya standar GM Certified – standar sertifikasi hijau yang paling rendah. Dan dalam 1-2 tahun terakhir, hampir seluruh bangunan baru di Singapura sudah memeroleh sertifikat GM. Bangunan yang telah memeroleh sertifikasi hijau secara langsung maupun tidak langsung akan mendapatkan banyak manfaat dari program ini.

Banguan yang tersertifikasi hijau akan bisa menghemat konsumsi dan biaya listrik dan air. Bangunan ini juga akan lebih ramah lingkungan yang membawa manfaat kesehatan bagi pekerja dan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Properti yang memeroleh sertifikasi Green Mark juga memiliki harga dan nilai jual kembali yang lebih tinggi. Sertifikasi ini harus diperbarui setiap tahun dan akan dicek kembali oleh BCA sebelum mendapatkan nilai sertifikasi baru.

Singapura adalah anggota Green Building Council (GBC), lembaga nirlaba yang memromosikan konsep bangunan yang berkelanjutan di dunia. Namun BCA mengeluarkan regulasi dan syarat-syarat Green Mark mereka sendiri.

Dengan konsistensi dan standar penerapan yang tinggi, standar ini juga sudah mulai digunakan di negara-negara lain seperti Malaysia dan Indonesia. Tim BCA akan datang ke proyek properti di negara terkait untuk melakukan pengecekan dan verifikasi.

Setiap negara bisa mengembangkan standar sertifikasi lingkungannya sendiri. Kuncinya adalah ketegasan dan konsistensi dari pemerintah untuk memberikan panduan sertifikasi bangunan hijau dan memonitor penerapannya. [Hijauku | KJPL]

Investasi Energi Bersih Cetak Rekor Baru

USA | Pendanaan dan investasi energi bersih menembus angka US$263 miliar tahun lalu atau tumbuh 6,5% dibanding tahun sebelumnya.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian terbaru The Pew Charitable Trusts yang diterbitkan minggu lalu. Dan untuk pertama kalinya sejak 2009, Amerika Serikat kembali menduduki posisi teratas menggantikan China yang selama ini memimpin pendanaan dan investasi energi bersih. Jerman, Italia, Inggris, dan India juga berhasil menarik investasi energi bersih dalam jumlah besar.

“Investasi energi bersih, di luar penelitian dan pengembangan, telah tumbuh 600% sejak 2004, didukung oleh kebijakan nasional yang efektif yang menciptakan kepastian pasar,” ujar Phyllis Cuttino, Direktur Program Energi Bersih dari Pew Charitable Trusts.

Amerika Serikat berhasil menarik investasi energi sebesar US$48 miliar tahun lalu. AS memberikan stimulus untuk menggairahkan pasar energi bersih nasional. Para investor berlomba-lomba mengambil kesempatan ini sebelum stimulus berakhir pada akhir 2011. Salah satu stimulus yang masih berlangsung hingga Desember tahun ini adalah pemberian insentif pajak atas listrik yang berasal dari energi terbarukan.
Energi surya mengalami kenaikan tertinggi sebesar 44%, menarik investasi sebesar US$128 miliar atau lebih dari separuh investasi energi bersih di negara-negara anggota G-20. Harga panel surya yang terus turun – mencapai separuh dari harga 12 bulan yang lalu – adalah salah satu pemicunya. Harga energi angin juga turun pada 2011.

Kombinasi penurunan harga dan pertumbuhan investasi tersebut juga menciptakan rekor kapasitas energi bersih baru sebesar 83,5 gigawatts (GW) pada 2011. Dari jumlah tersebut, kapasitas energi surya baru mencapai 30 GW, sementara energi angin mencapai 43 GW.

Yang menarik, kapasitas energi bersih dunia saat ini mencapai 565 GW, 50% lebih tinggi dibanding kapasitas energi nuklir dunia pada 2010.

Investasi energi bersih juga tumbuh pesat di wilayah Asia/Oceania – naik 10% menjadi US$75 miliar. Pertumbuhan yang relatif datar di China diimbangi oleh pertumbuhan di negara lain seperti di India, Jepang dan Indonesia.

Indonesia mencatat pertumbuhan investasi tertinggi di antara negara-negara anggota G-20 – mencapai 520%. Secara keseluruhan lebih dari US$1 miliar sudah diinvestasikan di aset-aset energi bersih Indonesia tahun lalu, membawa Indonesia menempati ranking ke-14 dunia. [Hijauku | KJPL]

Kesepakatan Tanggung Jawab Tertunda Lagi

Jakarta | Sesudah tertunda sembilan bulan, penandatanganan nota kesepahaman kasus tumpahan minyak dari sumur minyak Montara di Laut Timor akan dirundingkan lagi. Perundingan ulang itu penundaan kesekian kalinya. Rencana penandatanganan 2 Agustus 2011 ditunda karena peralihan kekuasaan Pemerintah Thailand.

”Ini upaya pihak PTT Exploration and Production (PTTEP) Australasia sebagai operator sumur Montara untuk menunda lagi penandatanganan. Alasan sekarang karena pergantian menteri pertambangan mereka,” ujar Ketua Tim Advokasi Tuntutan Ganti Rugi Pencemaran di Laut Timor Masnellyarti Hilman dari Kementerian Lingkungan Hidup, Rabu (11/04/2012), di Jakarta.

Dua minggu sebelumnya, Presiden sekaligus Direktur Eksekutif PTTEP Australasia Anon Sirisaengtaksin menyampaikan pesan menteri baru Thailand agar rancangan nota kesepahaman (MOU) dibahas ulang. ”Mereka mau menunda lagi,” ujar Masnellyarti.

Menurut dia, yang perlu diganti sebenarnya hanya nama orang yang duduk dalam neutral committee, komite yang menjadi mediator bagi para pihak jika terjadi ketidaksepakatan. ”Sebenarnya hanya mengganti nama, lainnya tetap. Memang masih ada beberapa hal yang belum sepakat. Apalagi yang mau dibahas?” tambahnya. Nota kesepahaman dibuat dua pihak, yaitu pemerintah Indonesia dengan pihak PTTEP.

Kedua pihak ketika itu belum sepakat mengenai jumlah dana tanggung jawab sosial perusahaan. ”Mereka maunya tiga juta dollar AS, kita mau lima juta dollar AS. Ini hanya CSR, bukan ganti rugi,” kata Masnellyarti.

Menurut Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal dan Koordinator Program Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan Abdul Halim, Pemerintah Indonesia harus tegas menolak revisi atas nota kesepahaman yang dilakukan.

Penundaan berulang kali oleh PTTEP Australasia, lanjut Halim, akibat kelambanan, lemahnya respons, dan diplomasi Pemerintah Indonesia. ”Tumpahan minyak itu masuk perairan Indonesia Agustus 2009, tetapi respons pertama baru ada setelah tumpahan minyak sumur lepas pantai BP di Teluk Meksiko, April 2010. Akibatnya, fakta di lapangan banyak berubah. Perusahaan bersama Pemerintah Australia dan Thailand memanfaatkan kelemahan Indonesia,” katanya. [Kompas | KJPL]

Festival Film Pengurangan Resiko Bencana 2012

Yogyakarta | Film adalah media yang sangat baik untuk membangun dialog, dan juga media yang efektif dalam menyampaikan informasi serta dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat, sebagai contoh, Al Gore dengan film yang berjudul “An Connvenient Truth” berhasil membangunkan kesadaran masyarakat dunia.

Film documenter dapat mengungkap banyak fakta tersembunyi yang pada akhirnya mampu menggerakkan public untuk bertindak. Tidak hanya itu proses pembuatan film tersebut sudah merupakan bagian dari kampanye itu sendiri. Secara tidak langsung para pembuat film belajar untuk mengenali bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana.

Untuk itu dalam rangka memperluas dan menjaring berbagai gagasan tentang pengurangan risiko bencana, panitia Asia Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction ke V yang akan diselenggarakan di Yogyakarta 22 – 25 Oktober 2012, akan menyelenggarakan Asia Festival Film (Afifes). Adapun tema dari Afifes adalah “Penguatan Kapasitas Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana.

Afifes terbuka untuk berbagai kelompok masyarakat, baik LSM, Media, pemerintah, komunitas atau siswa dari berbagai sekolah yang memiliki film documenter berkait dengan tema di atas. Untuk lengkapnya silahkan kunjungi website AMCDRR di www.5thAMCDRR-indonesia.net. [KJPL]

Earth Hour Global Berlangsung Sukses

UN | Earth Hour harus menjadi simbol komitmen dunia untuk beralih ke energi yang ramah lingkungan, efisien dan terjangkau pada masa datang.

Acara Earth Hour 2012 berlangsung sukses, melibatkan berbagai komunitas kreatif dan ramah lingkungan di seluruh dunia. Di Jakarta, puncak perayaan Earth Hour dilaksanakan di Central Park, Jakarta Barat. Dalam acara Earth Hour Indonesia, tahun ini, Jakarta berhasil menghemat listrik sebesar 214 MW naik dari angka penghematan listrik sebesar 170 MW tahun lalu.

Sebanyak 26 kota di Tanah Air terlibat dalam aksi hemat energi global ini. Aksi yang pertama kali digelar di Australia 5 tahun yang lalu ini mengajak masyarakat untuk turut mematikan lampu dan menghemat energi selama satu jam semalam mulai jam 20.30.

Tahun ini sebanyak 6032 kota di 150 negara turut serta mensukseskan acara ramah lingkungan ini. Markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York bahkan tidak mau ketinggalan ikut terlibat dalam acara Earth Hour. Mereka mematikan semua lampu di markas besar PBB selama satu jam guna memeringati Earth Hour.

Menurut Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, aksi PBB mensukseskan Earth Hour tahun ini adalah upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan bahaya perubahan iklim.

Perubahan iklim tahun ini telah menyebabkan kekeringan dan hujan ekstrem di sejumlah wilayah di dunia.

Kondisi cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh pemanasan global yang salah satunya disebabkan oleh kebiasaan kita memakai energi dan bahan bakar fosil dengan kurang bijaksana. Aksi global penghematan energi seperti Earth Hour ini adalah salah satu upaya untuk memerlambat efek pemanasan global dan perubahan iklim tersebut.

Menurut Ban, keputusan PBB terlibat dalam aksi Earth Hour juga bentuk solidaritas terhadap “20% populasi dunia – laki-laki, perempuan dan anak-anak – yang masih hidup tanpa listrik.”

Tahun ini adalah tahun ketiga keterlibatan PBB dalam acara Earth Hour. Ban menyebut Earth Hour sebagai simbol komitmen dunia untuk memberikan akses energi yang berkelanjutan untuk semua. “Dunia harus berfokus menciptakan energi yang ramah lingkungan, efisien dan terjangkau pada masa datang.”

Dan jangan lupa, pesan utama Earth Hour yang harus selalu kita ingat adalah: jadikan aksi hemat energi dan aksi-aksi ramah lingkungan lain sebagai gaya hidup. Go beyond the hour! [Hijauku | KJPL]