Ratusan Petani Tolak Pembangunan PLTU Batang

Batang | Ratusan petani dan nelayan membentuk konfigurasi tulisan “TOLAK PLTU” dengan menggunakan 48 perahu di atas perairan Ujungnegoro, Roban, Batang, Rabu (24/09/2014). Aksi itu mereka lakukan untuk mengingatkan pemerintah dengan rencana dan ancaman pembangunan PLTU Batubara yang mengintai pertanian … Baca lebih lanjut

300 Trembesi Hijaukan Tol Sumo

Mojokerto | Komitmen pada upaya perbaikan dan peletarian lingkungan hidup terus ditunjukkan investor pembangun Tol Surabaya – Mojokerto. Meski pembangunannya belum selesai 100%, PT Marga Nujyasumo Agung (MNA) selaku Badan Usaha Jalan Tol Ruas Surabaya-Mojokerto (Sumo) anak perusahaan PT Jasa … Baca lebih lanjut

Kerja Bakti Massal Asem Rowo Hasilkan Ratusan Karung Sampah

Surabaya | Kerja bakti massal yang digelar warga RW 03 Kelurahan Asem Rowo, Surabaya, menghasilan ratusan karung sampah. Ratusan karung sampah itu, terbanyak dikumpulkan warga dari buangan sampah yang masuk ke saluran gorong-gorong di Jalan Asem Mulya 5, yang ditengah … Baca lebih lanjut

Warga Pantura Surabaya Keluhkan Banjir Rob

Surabaya | Warga Pantai Utara Surabaya mengeluhkan banjir akibat luapan air laut atau rob, di kawasan tempat tinggalnya, yang terjadi Minggu (26/5/2013). Toha warga Greges mengatakan, banjir yang sering datang di kawasan tempat tinggalnya, diantaranya Kalianak, Margomulyo, dan Greges seperti … Baca lebih lanjut

Normalisasi Kali Surabaya Tiada Henti

Surabaya | Untuk terus melakukan upaya perbaikan dan pengendalian ekosistem di sepanjang Kali Surabaya, puluhan aktifis lingkungan hidup, tebar benih ikan asli Kali Surabaya. Aksi ini merupakan tahapan kedua yang digelar para aktifis lingkungan hidup di Jawa Timur, sesudah minggu lalu (08/07/2012) mereka menggelar aksi serupa di Sungai Kalimas, tepat di belakang Gedung Negara Grahadi.

“Aksi kita ini tiada henti, sampai kondisi Kali Surabaya benar-benar bersih dan bebas dari pencemaran limbah industri dan rumah tangga atau domestik,” kata Prigi Arisandi Direktur Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah – Ecoton, di sela penebaran benih ikan, di Kawasan Wringin Anom, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (14/07/2012).

Dalam aksi kedua itu, para aktifis lingkungan diantaranya dari Komunitas Nol Sampah, Ecoton dan Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia, menebar benih ikan rengkik, jendil, keting, belut juga bader asli Kali Surabaya, sepanjang dua kilometer dari hulu ke hilir di Kawasan Wringinanom, Gresik.

“Kita sengaja memilih jenis ikan itu, karena sangat signifikan untuk pemulihan ekosistem Kali Surabaya yang tercemar limbah Pabrik Gula Gempolkrep, Tjiwi Kimia dan Aluaksara Pratama – Produsen Tepung Beras “Rose Brand” pada 25-29 Mei 2012 lalu,” kata Teguh Ardi Srianto Ketua KJPL Indonesia.

Dijelaskan Teguh, kegiatan yang sama akan dilakukan lagi, Minggu (15/07/2012), dengan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat, diantaranya mahasiswa, pelajar dan komunitas lainnya yang peduli dengan kondisi Kali Surabaya, yang merupakan sungai utama di Jawa Timur.

“Untuk minggu (15/07/2012), kita juga akan menebar benih ikan jenis yang sama, dengan jumlah sekitar sepuluh ribu ekor, terbagi dalam beberapa jenis ikan,” tukas Teguh Ardi Srianto yang juga jurnalis di Radio Suara Surabaya. [KJPL]

Surabaya Tidak Punya Antisipasi Bencana

Surabaya | Surabaya sampai sekarang belum punya model kode bangunan atau building code, untuk kurangi resiko bencana.

Prof. Ir. Priyo Suprobo, MS., Ph.D., Pakar Teknik Sipil ITS mengatakan, kalau building code ini tidak dimiliki, maka potensi timbulnya korban kalau sampai terjadi bencana akan sangat tinggi. “Untuk itu, sebelum bencana datang, maka semua daerah di Indonesia harus memiliki building code seperti yang sudah diterapkan di negara maju dalam mengantisipasi bencana,” tegas Priyo.

Menurut Priyo, penerapan building code baru ada di Aceh dan ini diterapkan sesudah terjadinya tsunami, tahun 2004 lalu, yang mengakibatkan ribuan orang tewas. “Building code ini, harus ada di semua wilayah, khususnya daerah-daerah yang sering terjadi bencana,” kata Priyo.

Dengan adanya building code ini, diharapkan semua bangunan di Indonesia, sudah bisa mengantisipasi, kalau sampai terjadi bencana.

Dijelaskan Priyo, penerapan building code ini, tidak perlu dilakukan pada bangunan yang besar dan luas tapi bisa dimulai dari rumah sederhana yang hanya berlantai satu sampai dua.

Sementara untuk memberi contoh ke masyarakat tentang model bangunan yang sesuai dengan building code ITS sebagai lembaga pendidikan tinggi milik pemerintah siap membantu dengan menyebarkan informasi itu lewat internet dan jaringan lain yang mudah di akses masyarakat dengan gratis. [KJPL]

SIKLUS – ITS Gowes Lingkungan Surabaya – Yogyakarta

Surabaya | Untuk mengkampanyekan gerakan hijau di masyarakat, Pencinta Lingkungan Hidup ITS, menggelar “Rally Lingkungan Surabaya – Yogyakarta”, mulai Sabtu – Kamis, (23-28/06/2012). Agenda ini, selain untuk meningkatkan kesadaran warga masyarakat dalam memahami dan mencintai lingkungan, juga sekaligus sebagai upaya kampanye lingkungan hidup dari para mahasiswa ITS.

“Untuk agenda kali ini, diikuti 22 mahasiswa PLH Siklus, dan mereka akan berhenti di beberapa kota sebelum sampai di Yogyakarta,” kata Janah Panitia Rally Lingkungan Siklus ITS.

Ditambahkan Janah, dibeberapa kota seperti Madiun, Solo dan Yogyakarta, tim gowes dari Siklus ITS akan berhenti dan melakukan kampanye “Green Economy” untuk warga di sekitar kota yang dilewati.

“Upaya itu diharapkan dapat langsung menyentuh masyarakat luas, yang belum paham dengan arti penting menjaga dan melestarikan lingkungan hidup yang sudah rusak,” terang Janah.

Dalam kegiatan itu, tim gowes dari Siklus ITS, akan terus bersepeda menuju Yogyakarta dengan perbekalan yang sudah disiapkan termasuk tim medis akan mendampingi selama perjalan. [KJPL]

Koalisi Iklim dan Udara Bersih Baru Terbentuk

Swedia | Koalisi Iklim dan Udara Bersih (Climate and Clean Air Coalition) baru terbentuk di Swedia. Mereka menatapkan lima aksi hijau untuk memerangi dampak polusi bagi lingkungan dan kesehatan.

Hal ini terungkap dalam siaran pers yang diterbitkan Program Lingkungan PBB. Koalisi baru ini dibentuk dengan target mengurangi secara agresif polusi karbon hitam, metana dan gas rumah kaca, HFC.

Kolombia, Jepang, Nigeria, Norwegia, Komisi Eropa dan Bank Dunia bergabung dalam koalisi ini. Bersama Bangladesh, Kanada, Ghana, Meksiko, Swedia, Amerika Serikat dan Program Lingkungan PBB (UNEP) mereka melengkapi jumlah anggota koalisi – yang dibentuk pada tanggal 16 Februari lalu ini – menjadi 13 institusi.

Lima negara lain yaitu Australia, Denmark, Finlandia, Korea Selatan dan Inggris hadir sebagai pengamat bersama dengan delegasi dari sektor swasta.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Stockholm, Swedia, koalisi ini menetapkan lima inisiatif untuk mengurangi dampak polusi terhadap kesehatan, pertanian dan perubahan iklim.

Penelitian ilmiah yang dilakukan selama 10 tahun terakhir menyimpulkan, karbon hitam dan metana tidak hanya membahayakan kesehatan namun juga meningkatkan risiko perubahan iklim dan kerusakan tanaman pangan. Koalisi ini juga berupaya memerkenalkan gas yang lebih ramah lingkungan sebagai pengganti HFC. HFC adalah gas rumah kaca yang jika tetap dikonsumsi dalam beberapa tahun mendatang akan memerparah efek pemanasan global.

Diperlukan langkah-langkah yang sigap untuk mengurangi polusi bahan-bahan yang memicu masalah kesehatan dan pemanasan global ini.

Jika upaya koalisi berhasil, kenaikan suhu bumi hingga 0,5 derajat Celsius pada 2050 bisa dicegah sekaligus membantu mengurangi proses mencairnya es di kutub dan di wilayah-wilayah glasier seperti pegunungan Himalaya. Jutaan risiko kematian prematur akibat menghirup karbon hitam dan potensi kegagalan panen hingga 30 juta ton pada 2030 juga akan bisa dihindari.

Lima aksi darurat untuk mengurangi bahan-bahan penyebab polusi dan pemanasan global yang sudah disetujui adalah:

1. Aksi cepat untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh kendaraan berat dan mesin bertenaga diesel.

2. Memerbaiki proses produksi dan pembakaran batu bata tradisional yang tidak efisien dan menjadi sumber polusi karbon hitam. Meksiko misalnya, memiliki 20.000 fasilitas produksi batu bata dalam skala kecil dan menengah, sementara Bangladesh mendirikan 6000 fasilitas produksi batu bata tradisional pada 1900-an.

3. Mengurangi emisi gas metana dari lokasi pembuangan sampah. Sektor pengelolaan limbah atau sampah saat ini menyumbang sekitar 11% emisi gas metana global. Koalisi Udara Bersih akan bekerja sama dengan kota-kota di dunia untuk mengurangi emisi metana dari tempat pembuangan sampah dengan cara meningkatkan kemampuan teknis dan perencanaan kota dalam mengelola sampah.

4. Memercepat pengurangan emisi gas metana dan polusi lain di industri minyak dan gas. Kebocoran gas alam di industri minyak dan gas saat ini menyumbang seperlima emisi gas metana akibat ulah manusia. Tidak hanya polusi metana, pembakaran di instalasi minyak juga menghasilkan polusi karbon hitam. Dengan menggunakan teknologi yang ada saat ini, diperkirakan sepertiga dari kebocoran itu bisa dicegah dengan biaya terjangkau.

5. Memercepat ketersediaan gas alternatif pengganti HFC. Gas HFC selama ini diperkenalkan sebagai bahan yang ramah ozon, namun gas itu juga dikenal sebagai gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.

Inisiatif lain seperti mencegah pembakaran terbuka (open burning) baik di sektor pertanian maupun kehutanan yang diusulkan oleh Ghana dan perbaikan fasilitas memasak usulan dari Bangladesh akan dikembangkan dalam beberapa minggu mendatang.

Saat ini Koalisi Iklim dan Udara Bersih berhasil mengumpulkan dana sebesar US$16,7 juta yang akan dikelola oleh Sekretariat Program Lingkungan PBB (UNEP). Informasi lebih lanjut mengenai koalisi ini bisa diakses di situs ini. http://www.unep.org/ccac/ [Hijauku | KJPL]

KJPL Indonesia dilibatkan di Indonesia Climate Change Education Forum and Expo 2012

Jakarta |  Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar, yang juga merupakan Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim,  membuka 2nd Indonesia Climate Change Education Forum & Expo (ICCEFE), di Balai Sidang Jakarta Convention Center, Kamis (19/04/2012).

Pameran dan forum perubahan iklim tahun ini menargetkan 50.000 pengunjung dan diikuti oleh lebih dari 175 peserta yang mewakili kementerian dan lembaga pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, organisasi nirlaba, institusi pendidikan, lembaga donor, pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, komunitas perubahan iklim serta media cetak dan elektronik.

KJPL Indonesia dalam agenda itu, terlibat aktif sebagai media patnership, yang akan menyampaikan perkembangan dari semua aktifitas dalam kegiatan tersebut.

“Pameran dan forum pendidikan seperti ini perlu didukung dan diberikan ruang yang seluas-luasnya untuk penyebaran informasi dampak dan solusi perubahan iklim,” kata  Rachmat Witoelar. Rachmat juga menyampaikan apresiasi bagi para pihak yang sepenuhnya mendukung kegiatan ini.

Pameran yang mengusung tema “Response to Climate Change” dan diselenggarakan pada 19-22 April 2012 diharapkan mampu memancing respon dari berbagai kalangan untuk turut mengambil bagian dalam mengetengahkan solusi perubahan iklim. “Tidak hanya para pengambil keputusan kunci yang memiliki tanggungjawab terhadap dampak perubahan iklim namun pelaku bisnis dan industri yang banyak berperan di sektor ekonomi hendaknya dapat berjalan selaras demi mencapai solusi.” ujar Agus Purnomo, Kepala Sekretariat DNPI yang juga merupakan Staf Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim.

Tingginya antusiasme peserta pameran untuk mengetengahkan pesan edukasi perubahan iklim terlihat melalui padatnya rangkaian kegiatan pendukung seperti seminar, dialog interaktif, bedah buku, dan demo gaya hidup hijau. “Sekitar 5000 siswa akan menghadiri pameran ini. Dengan mengajak keterlibatan The Climate Reality Project Indonesia seperti pada tahun lalu, maka besar harapan kami bahwa aspirasi dari komunitas anak-anak dan kepemudaan yang giat menyuarakan kepedulian perubahan iklim akan lebih tersalurkan, salah satunya melalui Children and Youth Forum on Climate Change.

Pameran ini juga mengajak masyarakat luas menghadiri pemutaran beberapa film perubahan iklim.” tukas Amanda Katili Niode selaku Koordinator Divisi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Perubahan Iklim. Amanda juga menambahkan bahwa minimnya informasi perubahan iklim yang dapat dipahami masyarakat luas adalah tantangan yang harus disikapi oleh semua pihak.

Hasil yang dicapai dari 2nd Indonesia Climate Change Education Forum & Expo akan merupakan masukan penting bagi kajian multidisipliner untuk solusi perubahan iklim yang dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan.

Sementara Teguh Ardi Srianto Ketua KJPL Indonesia berharap, agenda seperti itu, tidak hanya digelar di Jakarta, tapi di kota-kabupaten Se-Indonesia, perlu dilakukan.

“Masalah perubahan iklim, bukan masalah lokal, tapi sudah jadi persoalan global, untuk itu, wajar kalau kampanye pentingnya budaya hidup hijau dan peduli lingkungan, juga ditularkan ke semua daearah di Indonesia, tidak terpusat,” ujar Teguh. [KJPL]