KJPL Indonesia Desak TPA Benowo Berhenti Operasi

Surabaya | Sehubungan dengan adanya hasil dari pengamatan lapangan dan investigasi yang dilakukan Tim KJPL Indonesia selama dua bulan di Kawasan Pantai Utara Surabaya, khususnya di Kali Lamong dan Pulau Galang, di perbatasan Surabaya dan Gresik. Tim KJPL Indonesia menemukan beberapa kondisi yang sangat memprihatinkan dan segera perlu dapat penanganan juga penindakan dari para pemangku kebijakan yang mengawasi dan melakukan pengelolaan lingkungan hidup di Kawasan Pantai Utara Surabaya.

Diantara temuan-temuan itu akan disampaikan KJPL Indonesia secara berkelanjutan, khususnya tentang adanya temuan “pipa siluman” yang diduga berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya.

Pipa Siluman di Kali Lamong“Pipa Siluman” ini , secara tidak sengaja ditemukan Tim KJPL Indonesia, waktu akan melakukan pemantauan dan pengambilan gambar kondisi mangrove dan burung di Pantai Utara Surabaya, pada periode 15-19 Oktober 2013.

Waktu Tim KJPL Indonesia melintas di sepanjang Kali Lamong, khususnya di sekitar Dukun Gendong, Romokalisari, Surabaya, Tim KJPL Indonesia dikejutkan dengan keberadaan pipa berdiameter sekitar 25 centimeter yang menjorok ke dalam bibir Sungai atau Kali Lamong, yang lokasinya masuk wilayah Dukun Gendong, Romokalisari, Surabaya dan berseberangan dengan wilayah Desa Prambangan, Kebomas, Kabupaten Gresik.

Dari temuan itu, Tim KJPL Indonesia berusaha menelusuri pangkal dari pipa yang terlihat dari bibir Kali Lamong, dan diduga kuat, pipa itu berasal dari Kawasan TPA Benowo, yang masuk wilayah Kota Surabaya.

“Pipa Siluman” itu ditanam dengan kedalaman sekitar 50 centimeter ke dalam tanah, memanjang ke arah TPA Benowo, sekitar 1,5 km dari lokasi bibir Kali Lamong.

Temuan ini dikuatkan dengan keterangan beberapa saksi mata dan warga juga nelayan yang setiap hari mencari nafkah dengan menangkap ikan di Kali Lamong sampai ke Teluk Lamong dan melintasi lokasi “pipa siluman” yang ditemukan Tim KJPL Indonesia. Dari keterangan mereka, keberadaan pipa siluman itu ternyata sudah lama dan masyarakat di sekitar lokasi, tidak tahu harus melapor ke siapa dan ke mana, meski beberapa kali “pipa siluman” itu mengeluarkan cairan warna hitam pekat di Kali Lamong.

Akibat dari pembuangan cairan itu, ikan di Kali Lamong banyak yang mati, bahkan sampai empat hari, kondisi air di Kali Lamong warnanya hitam pekat dan mengakibatkan para nelayan di Pantai Utara Surabaya dan Kawasan Gresik, tidak bisa melaut untuk mencari ikan, karena airnya tercemar. Kejadian ini terjadi di awal-awal Oktober 2013.

Satu diantara nelayan di sekitar lokasi mengatakan, selain mencemari Kali Lamong, cairan yang keluar dari “pipa siluman” itu juga mengakibatkan bau yang tidak sedap, waktu terhirup.

Pipa Siluman di Kali Lamong“Pembuangan cairan itu, sering dilakukan pada malam hari dan waktu kondisi air laut sedang pasang, sehingga cairan yang keluar dari pipa itu, tidak terlihat karena kondisi gelap,” jelas satu diantara nelayan.

Ditambahkan nelayan ini, pembuangan cairan dari pipa itu, sering dilakukan waktu musim hujan, sehingga airnya cepat larut ke Kali Lamong menuju Teluk Lamong.

Dengan kondisi yang ada, KJPL Indonesia mendesak semua pemangku kebijakan untuk serius dan segera mengambil sikap tegas pada para pelaku pencemaran yang ada di Kali Lamong dan Kawasan Pesisir Utara Surabaya. “Kalau kondisi ini terus dibiarkan, maka kondisi lingkungan di Pesisir Utara Surabaya akan semakin rusak dan terancam,” kata Teguh Ardi Srianto Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan | KJPL Indonesia.

Teguh juga menyayangkan dengan lambatnya pengawasan yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) baik Surabaya, Gresik dan Jawa Timur, yang terkesan tidak melakukan upaya kontrol yang jelas dan tegas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup . “Dalam aturan itu sudah jelas tugas dan fungsi BLH, diantraranya adalah melakukan pemantauan dan pengawasan pada Upaya Kelola Lingkungan (UKL) dan Upaya Pengawasan Lingkungan (UPL), tapi dengan temuan Tim KJPL, jelas ini ada kelalaian dan lemahnya pengawasan,” tegas Teguh.

KJPL Indonesia, secara resmi juga minta pada BLH untuk mengusut menindak langsung pelaku pencemaran dan perusakan Kualitas Air di Kali Lamong, sekaligus meneliti kandungan racun dan zat berbahaya lain, yang dibuang dari “pipa siluman” yang ditemujan di bibir Kali Lamong.

Selain itu, KJPL Indonesia minta pada Dinas Perikanan dan Kelautan baik di tingkat Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik juga Provinsi Jawa Timur, untuk mendampingi secara serius nasib dari para nelayan dan petambak di sekitar Kali Lamong yang kehidupan dan pencaharian mereka terancam akibat pencemaran dan perusakan lingkungan yang terjadi di Kali Lamong.

Dari hasil temuan itu, KJPL Indonesia minta pada pemerintah untuk bisa mempertimbangkan lagi operasional dari TPA Benowo yang diduga melakukan pelanggaran, dengan membuang limbah di Kali Lamong. “Kalau itu terbukti, maka kami mendesak TPA Benowo ditutup dan pengelolanya disanksi tegas, termasuk kemungkinan pencabutan Adipura Kencana yang disandang Surabaya, juga perlu dipertimbangkan,” tegas Teguh.

Dijelaskan Teguh, kondisi itu benar-benar menampar warga Surabaya yang dikenal sangat tinggi kepeduliannya pada lingkungan dan upaya-upaya perbaikan lingkungan hidup lainnya.

Pencabutan Adipura yang sudah diterima Surabaya sangat perlu dilakukan, kalau TPA Benowo yang jadi satu-satunya TPA warga Surabaya untuk membuang sampahnya, ternyata mencemari dan merusak lingkungan. “Satu diantara kriteria penilaian sebuah wilayah dapat Adipura atau tidak adalah keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), di TPA-nya. Jadi kalau TPA melanggar, maka Adipura yang sudah diterima harus ditarik pemerintah atas nama undang-undang,” tukas Teguh.

Sementara Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya waktu dikonfirmasi Tim KJPL Indonesia mengatakan, akan mengecek kondisi di lapangan. Chalid Buchari Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya mengatakan, dari pengecekan di lokasi, nanti hasilnya akan disampaikan ke masyarakat.

Sayangnya, hasil dari pantauan yang dilakukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya, sampai sekarang tidak pernah disampaikan ke masyarakat, khususnya tentang temuan “pipa siluman” yang ada di sekitar Kali Lamong.

Di sisi lain DPRD Surabaya yang juga sudah dapat laporan, tentang adanya “pipa siluman” itu, terkesan ‘adem ayem’, dan tidak serius merespon kondisi yang ada. Bahkan beberapa kali Ketua DPRD Surabaya yang sudah berencana melihat kondisi ‘pipa siluman’, sampai sekarang juga belum terlaksana dengan alasan yang belum jelas.

Mochammad Mahmud Ketua DPRD Surabaya waktu ditanya tentang “pipa siluman” itu, dia membenarkan keberadaan itu, dan sudah dapat laporan dari masyarakat, kalau pipa itu sering mengeluarkan cairan yang mencemari Kali Lamong. “Saya sudah dapat laporan itu juga dari warga di sana yang kebetulan masuk daerah pemilihan saya, tapi saya belum cek ke lokasi,” ujar Mahmud.

Ditambahkan Mahmud, kalau benar “pipa siluman” itu dari TPA Benowo, dewan akan menegur PT Sumber Organik (SO) sebagai perusahaan yang ditunjuk Pemkot Surabaya melakukan proses pengelolaan sampah di TPA Benowo. “Kalau memang melanggar dan sampai mengakibatkan pencemaran lingkungan, kontraknya bisa dicabut,” tegas Mahmud.

Meyikapi temuan Tim KJPL Indonesia Badan Lingkungan Hidup Jawa Timur, juga berjanji akan melakukan tinjauan lapangan dengan kondisi yang ada. Uda Hari Pantjoro Kabid Konservasi dan Pemuilihan Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Jawa Timur mengatakan, kami sangat terkejut dengan temuan itu, karena selama ini yang jadi perhatian BLH Jawa Timur lebih banyak ke pencemaran yang terjadi Kali Surabaya yang jadi sumber air baku air minum warga Jawa Timur di beberapa kabupaten-kota yang dilintasi Kali Surabaya.

Waktu menemui Tim KJPL Indonesia, untuk meminta data dan informasi tentang “pipa siluman” di Kali Lamong, Uda menyampaikan terima kasih pada KJPL Indonesia dengan laporan dan informasi tentang temuan itu. “Kepala BLH Jawa Timur, paling lambat Senin (4/11/2013) akan segera melihat langsung dan mengecek kondisi yang ada di lapangan,” jelasnya.

Menurut Uda, kalau pencemaran ini terbukti dan memang merusak lingkungan juga merugikan para nelayan, bisa saja operasional TPA Benowo dihentikan, karena jelas ini sudah melanggar UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. “BLH juga bisa memberi rekomendasi pencabutan Adipura Kencana yang sudah diterima Surabaya, karena TPA-nya tidak punya sistem pengelolaan limbah yang ramah lingkungan,” paparnya. [KJPL]

Materi Press Release Pipa Siluman di Kali Lamong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s